Tuesday, November 22, 2011

Sejarah Kepecintaalaman


Berawal dari penolakan putra-putra bangsa Indonesia terhadap pengaruh komunisme (yang mencampuradukan ideology bangsa Indonesia: pancasila, nasional dan agama), akhirnya putra-putra bangsa tersebut yang tergabung dalam KAMI, KAPI, dan lembaga organisasi lainya berkembang memasuki orde baru, dimana dalam orde baru ini adalah suatu reaksi dari politik ORDE LAMA, yang ditandai dengan dikeluarkanya SUPERSEMAR. Dari kondisi dan situasi tersebut kalangan pemuda sebagian tidak ikut terhanyut dalam dunia politik akan tetapi mereka lebih banyak memperhatikan lingkungan sekitar (perkotaan) yang rusak akibat dari (Chaos) perusak politik tersebut, pencemaran udara, dan sebagai krisis kemanusiaan telah melanda Indonesia. Para putra bangsa yang mempunyai hobi dan berbagai macam kreatifitas dan melihat realitas disekitar yang demikian risuh, maka menggagas sebuah wahana sebagai pengembangan bakat dalam dunia kepetualangan (adventure) dan dirinya dalam wujud yang nyata di dunia pecinta alam. Kelompok pecinta alam umum (Free Line) yang pertamakali berdiri adalah WANADRI dari bandung, yang disusul dengan pecinta alam lainya, sedangkan pecinta alam tingkat perguruan tinggi adalah MAPALA Universitas Indonesia Jakarta.


Pada tahun selanjutnya Free Line dari mapala-mapala dalam perkembangannya  di Indonesia sudah banyak yang terbentuk dan mempunyai orientasi yang jelas. Berawal dari kesadaran yang sama pula, baik mahasiswa maupun Free Line bersama-sama berhasil mencetuskan suatu kesepakatan untuk mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam berupa kode etik pemuda pecinta alam yang dirumuskan diujung pandang pada 29 januari 1974.

Pecinta alam yang lahir secara alamiah karena dorongan untuk belajar pada alam yang merupakan proses yang secara riil dapat diperoleh melalui kegiatan alam bebas dan kepecintaalaman. Dalam kegiatan alam bebas akan memunculkan kebutuhan untuk membuat manusia utuh, yang tidak hanya menguasai pikiran dan emosional. Sebagaimana yang dikatakan filsuf bahwa hal pokok yang dimiliki manusia didunia adalah dunia ide, gagasan, pikiran dan roh. Roh tersebut bergerak dan bekerja dengan memandang berbagai aspek dilingkungan sekitar. Feurbach juga mengatakan bahwa yang menentukan dunia ini adalah benda dan kejasmanian. Dari pendapattersebut dapat dikonklusikan “ kemampuan manusia  tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berfikir saja, tetapi ditentukan sekuat apa kekuatan diri dalam menghadapi beradaptasi dan bercermin dengan dunia luar.

No comments:

Post a Comment